You Are Reading

Pesugihan Umyang Jimbe



Nama sebutan Umyang adalah sebutan bagi sepasang puthut/badjang dan “kegunaan” keris tersebut. Jenis keris umyang ada beragam. Ada Umyang Jimbe, Umyang Tagih, Umyang Beras, Umyang Panimbal, Umyang Tombak dan lain sebagainya. Melihat penamaan keris ini, bisa langsung ditebak bahwa tujuan utama sang pembuat dan pemilik keris ini berintensi mendapatkan bantuan atau pertolongan dari piandel tersebut. Umyang Jimbe dipercaya bisa membantu melancarkan usaha dan menghalau rintangan, Umyang Panimbal dipercaya bisa mendatangkan / memanggil rejeki, Umyang Tagih membantu pemiliknya menagihkan utang-utang orang lain kepadanya, bahkan Umyang Beras diyakini bisa membuat beras yang ada di tempat beras tidak akan habis. Wallahu'alam.
Kembali ke masalah nama – dinamakan umyang karena kedua puthut ini yang “ngumyang” (umek, sibuk, berusaha keras sambil ngomel dan berceloteh). Kata Umyang sendiri, menurut arti lain bahasa jawa adalah seseorang yang "ngumyang" atau menggigau..tidak sadar. Jadi sepasang manusia pada dapur umyang tersebut dianggap sebagai “prewangan” yang membantu pemilik pusaka tersebut melancarkan maksud-tujuannya. Rasanya logika penamaan ini cukup masuk akal.

Karena sifat dapur keris Puthut Kembar sebagaimana terurai di atas, maka sangat kuat bahwa dikalangan pecinta keris, dapur umyang lebih dimaknai sebagai benda isoteris klenik yang kental dengan dunia perdukunan. Penggemarnya pun juga kebanyakan dari kalangan pengusaha atau pedagang. Padahal bila dicermati lebih dalam, kita bisa menggali banyak nilai filosofis keris dapur puthut kembar ini – dibandingkan sekedar berharap rejeki dari benda mati.

Mari kita coba melihat nilai-nilai tersebut karena keris sebagai hasil karya seni juga merupakan sebentuk bahasa – alat komunikasi. Bahasa adalah sarana yang membawa banyak muatan, baik muatan komunikasi, karakteristik penutur/pembuat, sampai relasi nilai yang paling substansial. Bahasa adalah sebuah simbol. Sebagai sebuah bahasa, bentuk dan gambar berbicara menunjuk tentang lambang/simbolisasi sesuatu yang mempunyai kandungan makna melampaui dirinya sendiri.

Dalam kaitannya dengan dunia pe-keris-an juga sama halnya. Keris kerap dikatakan juga sebagai alat penanda jaman / sengkalan suatu masa atau kejadian tertentu. Misal, Keris dengan kinatah Gajah Singo pada gonjo yang melambangkan sengkalan tahun 1558, pertanda berhasilnya pasukan Sultan Agung menumpas pemberontakan pragola di Pati, dan beberapa contoh keris lainnya. Dan sesungguhnya lebih dari itu, keris juga bisa mempunyai maksud pralambang atau simbolisasi. Dan ini bisa sangat jamak kita temui dalam hampir pada semua keris, termasuk pada keris dapur Puthut Kembar ini.
Puthut, dalam istilah Jawa bermakna Murid atau Santri atau Cantrik, seseorang yang berguru atau belajar ilmu (apa saja) pada seorang guru/resi/pandita dsb. Putut adalah seorang pendeta atau pertapa muda. Bentuk puthut ini konon berasal dari legenda tentang cantrik yang diminta menjaga sebuah pusaka oleh sang guru. Ia diminta untuk menjaga (berjaga), sambil terus berdoa dan memohon pertolongan serta kekuatan dari Yang Maha Kuasa.Ada murid laki-laki ada perempuan,keduanya juga melambangkan keseimbangan dan juga perpaduan, bahwa apa yang ada di bumi ini selalu berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan perempuan, ada siang dan malam, ada gelap dan terang, ada hitam dan putih, ada sedih dan gembira, ada yin dan yang. Pada keris dapur puthut, ini bisa kita amati bahwa bentuk wajah Puthut seolah-olah berupa orang laki-laki di bagian depan (gandik) dan perempuan di bagian belakang (wadidang). Dan keduanya tampak menggenakan gelungan ikat kepala.Posisi duduk bersimpuh (bertapa) : menengadahkan tangan seperti posisi berdoa. Sebagai murid, untuk mencapai suatu ilmu, harus menjalaninya dengan proses tirakat, semedi untuk mencapai keheningan, kebersihan batin, tawakal dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa . Jika jiwa kita bersih, maka kita akan dengan mudah menyerap ilmu yang kita pelajari. Sebagai murid, atau orang yang sedang belajar harus bisa menjauhkan diri dari sifat sombong, congkak atau sifat merasa tahu (rumongso biso/sok tahu) Harusnya "biso rumongso". Perlu membuka wawasan, mawas diri, rendah hati, sederhana, andhap ashor dan bersedia belajar dari orang lain. Itulah laku yang harus dijalankan oleh murid / santri / cantrik di jaman dulu, kemarin, sekarang serta jaman-jaman seterusnya. Itulah pakem seorang murid.

Dengan mendalami arti relief sepasang manusia pada dapur keris tersebut maka kita akan bisa membedakan arti relief puthut dengan relief umyang. Dengan memahami dan menghayati arti yang berbeda maka kita akan mempunyai energi yang berbeda pula. Jika kita condong memahami keris tersebut sebagai “bocah ngumyang” yang lebih ke urusan rejeki atau penagihan maka energi kita juga akan lebih kemrungsung akan harta benda. Jika kita melihat sepasang bocah sebagai puthut yang nyantri / murid – maka kita akan lebih bersikap andhap asor dan mendudukkan diri sebagai murid di hadapan Yang Maha Kuasa, sesama dan lingkungan jagat yang amat luas ini.
Posisi sikap keduanya sama yaitu sama-sama tangan menengadah ke atas (atau menyembah). Keduanya sama-sama memohon ke TUHAN YME. Hanya tujuannya yang berbeda karena “spiritualitas” yang berbeda. Yang satu memohon pemahaman hidup (sejatining urip) yang lain memohon jaminan kekayaan harta/materi.(koleksipenceng.blogspot.com)

PESUGIHAN UMYANG JIMBE
Setelah kita pahami perihal Keris Umyang dari koleksipenceng.blogspot.com dari informasi Berita Pesugihan. Indo Pesugihan akan mengupas pesugihan dengan pusaka Umyang Jimbe dengan berkonsultasi pada spiritualis kondang asal salatiga Ki Tjakra Djajaningrat. Sebenarnya siapapun orang yang telah memiliki pusaka Umyang jika dia memahami dan mengerti tatacara pembangkitannya, maka keris pusaka itu akan memiliki faedah yang sangat besar bahkan bila pemiliknya mau menyalah gunakan pusaka itu akan menjadi piandel sebagai pesugihan. Pusaka Umyang ataupun Omyang bagi pemburu kekayaan pada jalur pesugihan sebenarnya kerap dijumpai dan sering kita dengar. Ada seorang Dukun yang konon mampu memroses keris pusaka itu untuk mendatankan uang secara ghaib.Benarkah? Jawabannya bisa saja bila itu seorang yang benar-benar ahli namun tidak sembarangan dukun/orang mampu melakukannya. Keris ini sebenarnya jika di puja dengan suatu prosesi ritual tertentu maka akan dihuni prewangan ghaib dari golongan Tuyul atau Bayi Bajang.
Pemroses alias Pakar yang ahli di bidang supranatural sebenarnya hanyalah menjalankan ritual untuk memerintahkan khodam penghuni keris tersebut untuk disuruh mengambilkan harta yang tidak bertuan ataupun mencuri harta orang kaya yang tidak mau bersedekah,konon katanya begitu! Beragam cara untuk memproses keris Umyang ini,cara pesugihan putih dan cara pesugihan hitam.
Pesugihan Putih Keris Umyang Jimbe:
Dalam pesugihan ini sarat utamanya jelas memiliki keris Umyang Jimbe yang telah terbangkitkan potensi khodamnya, pemilik hanya bertugas merawat dan memberi sesaji pada keris pusaka tersebut pada malam tertentu sebulan sekali. Dengan hal itu diyakini bahwa pemilik akan mendapat bantuan dari prewangan dalam usahanya mencari rezeki, melariskan dagangan, memanggil pembeli, menarik pelanggan,menaikan karier/jabatan,dsb. Adapun salah satu jejawab mantranya sebagai berikut:
"Hong ilaheng,dat katon dat nora katon jatining sukmo,sang omyang sang jabang sing kanggonan,,,,,,sir ciptoning roso,pamatak kasugihanku,,,,,teko gampang sarining gampang,,,,,,berkah kersaning Allah ta'ala"
Maaf mantra tidak kami tampilkan utuh untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan,bagi yang berminat silahkan konsultasikan sesuai prosedur.Bagi yang menginginkan berminat untuk memiliki keris umyang jimbe silahkan hubungi indopesugihan@gmail.com / hubungi: saudara Dimas klik: www.susuhangin.com
Pesugihan Hitam Keris Umyang Jimbe:
Pesugihan ini disebut hitam karena mendayagunakan keris umyang jimbe untuk diproses agar prewangan ghaibnya mampu bekerja mengambil harta orang mampu mencuri layaknya tuyul.
Pusaka ini akan memiliki kekuatan dahsyat dikarenakan dipuja khodam ghaibnya,dengan perjanjian tertentu maka prewangannya mampu melakukan tugasnya berwujud kumoro kumandang bergentayangan mencuri harta siapapun yang menjadi sasarannya seperti halnya babi ngepet/tuyul. Pada setiap malam yang telah dijanjikan pemilik wajib memberi sesaji dan memandikannya dengan minyak sekar setaman dan air kelapa hijau.Bila pemilik lupa maka khodam yang menghuni pusaka tersebut akan murka dan bisa-bisa tidak terkendali kemarahannya yang justru bisa menjadi bumerang-senjata makan tuan.Walau sebenarnya berbahaya memanfaatkan keris umyang jimbe untuk pesugihan jalur hitam,tapi masih banyak orang memburunya, bukan hanya orang awam saja namun tokoh-tokoh paranormalpun juga memburu kedahsyatan keris pusaka umyang jimbe ini. Untuk tatacara pembangkitan jalur hitam maaf tidak bisa kami postingkan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyalahgunaan dan hal ini perlu bimbingan seseorang yang ahli yang menguasai keilmuan umyang jimbe.Bagi yang berminat silahkan hubungi kami Indo Pesugihan.
 
Copyright 2010 Indo Pesugihan